| Kediri (prigibeach.com/surya) - Ratusan warga di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, memprotes keberadaan peternak babi di Desa Segaran, Wates. Para peternak babi tidak memiliki pengolahan limbah babi, sehingga membuang kotoran bekas babi ke sungai. Akibatnya, sungai yang melintas di Desa Pojok itu kotor, buthek, dan bau dipenuhi limbah babi. Persoalan limbah babi ini semakin rawan. Warga Pojok yang hampir semua muslim sangat sensitif dengan babi yang dianggap najis besar. "Setiap hari, kali menjadi buthek dan bau. Biasanya pada malam hari dan siang pukul 10.00 WIB. Banyak warga setelah nyemplung kali menjadi gatal-gatal. Warga kami ada 200 KK, mayoritas muslim. Jadi persoalan babi ini menjadi rawan," ujar Imam Santoso, Kasun Pojok, kepada Surya, Kamis (4/3). Warga mendesak kepada pemerintah desa dan Pemkab Kediri memperhatikan keluhan mereka. Warga sebenarnya mulai ribut limbah babi sejak awal 2009. Lokasi Desa Pojok berada pada aliran bawah Sungai Segaran. Padahal, sungai selain untuk ngguyang sapi, juga ada yang memanfaatkannya untuk cuci pakaian dan mandi. Pertengahan 2009, dua pemerintah desa (Segaran dan Pojok), warga, dan peternak dipertemukan. Dibuatlah kesepakatan, peternak dilarang membuang limbah kotoran babi di sungai. Beberapa peternak di antaranya, Ruli Sugiarto, Suhendro, dan Harjuno. Mereka rata-rata memiliki sedikitnya 200 ekor babi. Ternak babi diminati karena satu ekor babi sekali beranak rata-rata 10 ekor, harga dagingnya Rp 14.000 per kg. Setiap satu ekor usia panen sekitar 6-7 bulan beratnya rata-rata 90 kg. Segaran adalah salah satu sentra peternak babi di Kediri. Para peternak diminta membuat penampung kotoran babi di areal ternak. Namun Desember, sungai kembali kotor. Warga pun kian ramai memprotes para peternak babi tersebut. Saat Surya mengecek kandang babi, rata-rata kandang babi berdekatan dengan sungai warga. "Ada di antara peternak menyalahi kesepakatan dan sungai menjadi tempat pembuangan limbah babi," terang Adi Suwito, Kaur Pemerintahan Desa Segaran, sambil menambahkan selain tiga peternak besar, hampir semua warga Segaran memelihara babi. Ruli Sugiarto saat dikonfirmasi Surya mengaku hanya menjadi korban dari peternak yang tidak taat pengolahan limbah. "Kandang saya cukup penampungan. Barangkali luberan hujan yang mengalir ke sungai. Tapi kapasitas limbahnya sangat kecil," kata Ruli. Kasat Reskrim Polres Kediri, AKP Aria Wibawa, menyatakan bahwa pihaknya memang sedang memproses para peternak babi yang tidak dilengkapi dengan pengolahan limbah. "Kita sudah periksa empat pekerja ternak sebagai saksi," kata Aria.nfai/sol/hab |