Trenggalek : Beras Mahal - Warga Banyak Kermbali Makan Tiwul
Trenggalek (prigibeach.com) - Melonjaknya harga sembako dalam dua bulan terakhir ini menyebabkan masyarakat di pedesaan Trenggalek Jawa Timur mengalami kesulitan ekonomi. Harga beras yang membubung tinggi hingga mencapai Rp. 6.500,00 (enam ribu lima ratus rupiah) per-kilogram, terasa berat bagi warga.
"Beras per-kilo biasanya hanya 5 ribu, dan sekarang naik jadi 6 ribu lebih, kami tidak mampu beli," ujar mBok Surti (48), RT 11 desa/kecamatan Suruh. Oleh karena itulah keluarga mBok Surti yang terdiri dari 6 orang kini kembali mengkonsumsi tiwul sebagai makanan pokoknya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Tohar (57), warga RT 17 Desa Sukowetan, Kecamatan Karangan, Trenggalek. Harga sembako yang melangit membuat banyak keluarga di pedesaan Trenggalek kembali memanfaatkan tiwul sebagai pengganti beras. Warga di beberapa desa di pegunungan Dongko, Panggul dan Pule membuat tiwul dari ketela pohon yang dipanen dari hutan. Mereka mengolah ketela secara tradisional menjadi gaplek sebelum diselip menjadi tepung. Dengan cara ini mereka tak perlu mengeluarkan biaya lebih besar.
"Makan tiwul sudah menjadi kebiasaan kami dulu, sehingga tidak masalah. Tapi untuk anak saya yang masih kecil yang selama ini tidak kenal tiwul, kasihan mereka," ujar Waris (40) warga Desa Ngrencak, Kecamatan Panggul.
Dengan tiwul, warga bisa lebih menghemat. Harga ketela pohon Rp. 1.500,00/Kg. Diperkirakan dengan nominal 3 ribu rupiah sudah setara harga satu kilogram beras.
Masyarakat sangat berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk operasi pasar menghindari makin melonjaknya harga-harga sembako Terutama, beras. Terlebih lagi menjelang bulan romadhon ini. (Tom/Haz)
» Sudah dibaca sebanyak
184 kali [ hari ini 2 kali ] sejak ditampilkan » Unduh PDF » Cetak Berita